Senin, 16 November 2015

Dibalik Awan Hitam Yang Gelap Ada Pelangi bersinar Terang


Di balik awan yang hitam, ada pelangi yang berwarna. Allah SWT menghadirkan awan hitam dan angin kencang, serta hujan dan diselingi dengan halilintar yang memekakkan telinga. Bukan karena Allah ingin menakut-nakuti kita para insan yang ada di bumiNya, tapi Allah ingin menunjukkan pada kita bahwa ada pelangi yang indah setelah hujan reda. Ya pelangi yang penuh dengan warna, pelangi yang dapat memancing setiap mata yang memandangnya.
Subhanallah, begitu juga jika dikaitkan dengan kehidupan kita, Allah menghadirkan banyak ujian untuk diri kita, bukan karena Allah tidak sayang pada kita, justru Allah ingin kita melihat betapa indahnya hikmah yang ada di balik setiap ujian yang Allah berikan untuk kita.
Bukankah badai pasti berlalu seperti dalam liriknya lagu om Crisye :)
Maka Mari kita renungkan firman Allah SWT:“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5-6).
Bukankan ayat ini sering kita dengar, lantas untuk apa kita gusar dan cemas. Kita harus yakin bahwa Allah tidak akan menguji HambaNya diluar batas kemampuan kita.
Imam Asy Syafi’i pernah berkata dalam bait syair:
Bersabarlah yang baik, 
maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, 
maka ia pasti akan selamat.
Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, 
maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, 
maka Allah pasti akan memberi pertolongan.

Menangis lah Bila Perlu Kita Perlu Kita Untuk Menangis




بسم الله الرحمن الرحيم ذي الجلال والإكرام
Tangisan itu, ada yang dicintai Allah, adapula yang tidak bernilai apa-apa, adapula yang dibenciNya.
Menangislah, tapi yang benar.
Semua orang mungkin pernah menangis, tapi untuk engkau kumohon, menangislah, tapi yang benar.
Orang menangis untuk alasan yang bermacam-macam. Bayi menangis karena lapar, haus, gatal, kesakitan, atau buang air.
Anak kecil menangis karena dipukul kawannya, dimarahi  ayahnya, keinginannya tidak dituruti, atau barangnya yang hilang.
Remaja menangis karena merasa dikhianati,ditinggalkan sendiri, keinginannya tidak tercapai, tambatan hatinya diambil orang, atau dikucilkan kawan.
Seorang gadis menangis karena nyeri haid, tidak diperhatikan ayahnya, menikah gagal, atau malu berkesangatan.
Seorang istri menangis karena bertengkar dengan suami, anak-anak yang nakal, hutang yang menumpuk, atau difitnah tetangga.
Seorang ibu menangis karena anaknya mati, rumahnya terbakar, tokonya dijarah orang, atau uang arisan hilang.
Seorang lelaki menangis karena istri selingkuh, anak yang durhaka, fitnah rekan sekerja, atau sakit berkepanjangan yang tak kunjung sembuh.
Orang bergembira juga bisa menangis. Menangis karena senang.  Mahasiswa lulus  ujian skripsi menangis, setelah bersemester-semester tidak kunjung lulus. Dua pasangan yang mandul menangis, ketika tiba2 mendapat berita dari dokter bahwa sang istri hamil. Seorang pria buruk rupa menangis karena lamarannya pada gadis pujaan hatinya yang cantik nan cerdas  diterima.
Semua orang mungkin pernah menangis, dengan alasan susah maupun gembira, tapi untuk engkau Demi Allah ,menangislah, tapi yang benar.
Orang menilai sebuah tangisan dengan penilaian yang bermacam-macam. Orang bilang jika bayi menangis, itu wajar, anak menangis itu biasa, perempuan menangis itu fitrahnya, lelaki menangis itu tanda cengeng, tapi aku ingin mengatakan kepadamu; sesungguhnya tangisan itu ada yang dicintai Allah, ada yang tidak bernilai apa-apa, dan ada pula yang benar-benar dibenciNya.
Tangisan yang dibenci Allah adalah tangisan yang disertai dengan ucapan lisan yang membuat Allah murka. Tangisan yang dibenciNya adalah tangisan yang disertai keluhan atas ketentuanNya. Tangisan yang yang dimurkaiNya adalah tangisan yang tidak ridha dengan takdirNya.
Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar;
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ فَقَالَ قَدْ قَضَى قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَبَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَكَوْا فَقَالَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ
صحيح البخاري [5 /59]
Dari Abdullah bin Umar beliau berkata; Sa’d bin Ubadah sakit, maka Nabi SAW datang membezuknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa’d  bin Abi waqqash dan Abdullah bin Mas’ud. Tatkala Nabi masuk menemuinya, beliau mendapatinya berada dalam selimut keluarganya.  Nabi bertanya; “Apakah sudah wafat”?mereka menjawab: “Belum wahai Rasulullah”.. maka Rasulullah SAW menangis. Tatkala orang-orang melihat tangisan Nabi Saw mereka ikut menangis. Nabi bersabda; “dengarkanlah; sesungguhnya Allah tidak menyiksa dengan tetesan airmata, tidakpula dengan kesedihan hati, tetapi Dia menyiksa atau mengasihi  karena (sebab) ini –beliau sambil menunjuk lisannya–  (H.R.Bukhari)
Tangisan yang seperti inilah yang disebut dengan  Niyahah (ratapan) yang dicela keras dalam Islam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ
صحيح مسلم [1 /207]
Dari Abu Hurairah beliau berkata; Rasulullah SAW bersabda; ada dua hal yang ada pada orang-orang dimana keduanya dalah kekufuran; memfitnah nasab dan meratapi mayit (H.R.Muslim)
Tangisan yang tidak bernilai apa-apa adalah tangisan kesedihanmu  yang semata-mata mengeluarkan airmata karena urusan duniamu. Tangisan yang tidak bernilai apa-apa adalah tangisanmu ketika kehilangan orang yang engkau cintai, atau kehilangan barangmu, atau disakiti orang yang engkau kagumi, atau hal-hal yang semakna dengan ini. Engkau hanya semata-mata mengeluarkan airmata, tapi engkau menjaga lisanmu.
Tangisan yang dicintai Allah adalah tangisan ketika engkau sendiri, menyepi, tiada teman tiada kawan, tiada kekasih tiada handai taulan, lalu engkau mengingat Allah, lalu melelehlah airmatamu…..berlinanglah butiran-butiran halus bening dari sudut penglihatanmu, karena engkau merasa banyak dosa, banyak kesalahan, banyak maksiat dan Engkau takut akan murkaNya..
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …. وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
صحيح مسلم [5 /229]
Dari Abu Hurairah; dari Nabi SAW; ada tujuh orang yang dinaungi Allah dalam naungannya di hari tidak ada naungan selain naunganNya (hari pengadilan)………danseseorang yang mengingat Allah sendirian lalu meleleh kedua matanya. (H.R.Muslim)
Engkau menangis karena merasa selama ini tidak tahu diri…ketika berdoa kepadaNya banyak yang kau pinta, tapi ketaatan yang kau persembahkan asal-asalan.
Engkau menangis karena merasa  selama ini tidak konsisten dengan yang kau ucapkan..di luar berteriak tegakkan syariat dan jagalah ketakwaan, tapi saat sendiri kau turuti hawa nafsu tanpa malu..
Engkau menangis karena sepertinya selama ini sudah dapat ilmu banyak, tapi tidak ada yang diamalkan kecuali sedikit.
Engkau menangis karena sering berjanji kepad Allah “jika permohonanku ini dikabulkan, maka aku akan melakukan ini dan itu…” tapi tidak ada satupun yang dilakukan..kalaupun dilakukan itupun seenakknya.
Engkau menangis karena jika dihadapan si dia kau tampakkan kesalihan dan kelembutan, tapi jika sendiri kewajiban-kewajiban suci tidak ada yang kau buat peduli.
Jadi, menangislah tapi yang benar.
Orang memangis karena musibah, itu wajar tetapi jangan sampai lisan mengucapkan kata-kata yang menimbulkan murka.
Orang menangis karena musibah, sungguh indah jika disertai dengan Shobr (ketabahan).
Orang menangis saat sendiri mengingat Allah, adalah secantik-cantik jenis menangis. Tangisan inilah yang paling ikhlas,yang selamat dari Riya’, Sum’ah, dan ambisi dipuji manusia.
Menangislah, tapi yang benar.

Salam rindu dari sahabatmu
Danny

Minggu, 15 November 2015

ASIK NYA UJIAN DARI ALLAH


Beberapa minggu terkahir ini, banyak diantara sahabat-sahabat saya yang bertukar pikiran tentang cobaan yang saat ini sedang dialaminya. Ijinkan saya sedikit membahasnya malam ini.
Pada dasarnya, manusia hidup akan selalu ada cobaan dan ujian. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa ujian dari Allah bisa berupa kesenangan dan kesulitan. Seperti firmanNya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Al Anbiya : 35).
Banyak diantara kita mengeluh ketika diuji dengan kesulitan. Mengeluh karena merasa beratnya kesulitan yang dihadapi, mengeluh karena sulitnya mencari jalan keluar, mengeluh karena besarnya beban yang harus ditanggung, mengeluh karena kesulitan yang terlalu menyakitkan, mengeluh karena sudah lelah menghadapi kesulitan yang tak kunjung selesai, bahkan sampai ada yang mengeluh dan berpikir bahwa Allah sudah tidak sayang lagi kepadanya, naudzubillahi min dzalik.
Para alim-ulama sering mengartikan bahwa salah satu penyebab keluh-kesah yang teramat besar adalah karena kurangnya tingkat keimanan kepada Allah. Karena biasanya, pada saat ketika kesulitan tersebut tidak bisa diselesaikan dan tidak kunjung selesai, maka keyakinan atas doa yang dipanjatkan menjadi berkurang, dan ketika itulah iblis akan masuk dengan mudahnya untuk menggoyang keimanan kita.
Padahal Allah berkali-kali menyebutkan dalam Al Qur’an bahwa Dia tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan hambanya.
“…seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya…” (Al Baqarah : 233)
” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Al Baqarah : 286)
“…Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kemampuannya…” (Al An’aam : 152)
“…Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” (Al Mu’minuun : 62)
“…Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yg Allah berikan kepadanya…” (Ath Thalaaq : 7)
Lihatlah, Allah telah berjanji dalam Al Qur’an sebanyak 5x kepada kita bahwa Dia tidak akan membebani kita dengan ujian dan cobaan diluar kemampuan dan kesanggupan kita.
Dalam hal ini, Allah menunjukkan bahwa Dia Maha Tahu, Maha Pengasih juga Maha Penyayang. Dengan segala PengetahuanNya dan kasih sayangNya, Allah menguji kita tanpa melebihi kemampuan kita. Juga ujian tersebut sebagai bentuk kasih sayangNya dalam rangka menghapus dosa dan menambah keimanan kita.
Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa Allah percaya kepada kita bahwa kita mampu menghadapi ujian dan cobaan. Dengan segala rizki dan kekuatan yang telah Allah berikan, Dia percaya bahwa kita mampu menyelesaikan kesulitan dan melewati ujian dalam keadaan beriman.
Sekarang, semua tergantung pada kita. Apakah kita tidak percaya pada janji Allah? Apakah kita mau mengabaikan kasih sayang Allah yg diberikan lewat sebuah kesulitan? Dan apakah kita mau merendahkan diri kita dengan mengeluh dan merasa tak mampu mengahadapi kesulitan padahal Allah percaya bahwa kita mampu melewatinya?
Semoga, dengan rizki dan kekuatan yang telah Allah berikan, kita mampu melewati ujian dalam keadaan bertambah iman. Aamiin..
Wallahu a’lam.
Insya Allah Danny akan Sayang Kalian semuanya



❤❤❤❤❤❤❤❤
Semoga kita semua bisa menemukan hikmah dari berbagai cobaanNya dan naik kelas melalui berbagai cobaan tersebut.
Di dunia ini manusia berlomba-lomba, bahkan membayar mahal, mencari ujian untuk mendapat ijazah, sertifikasi atau akreditasi profesi, demi keberhasilan menggapai derajat yang tinggi di dunia yang fana. Nah, akreditasi Allah hadiahnya ada di surga, dan akan kita nikmati selamanya. Masak tidak kita kejar?
Semoga kita semua bisa lulus ujian, naik kelas sampai kelas tertinggi, dan suatu hari kita bisa berjumpa di perayaan akreditasi hidup kita di surga yang tertinggi ya. Amin Amin YRA.
❤❤❤❤❤❤❤